POTENSI TANAH SULFAT MASAM

I. Pendahuluan


1.1. Latar Belakang
Tanah sulfat masam merupakan tanah yang mengandung senyawa phryte (FeS2), banyak terdapat di daerah rawa, pasang surut maupun lebak. Mikroorganisme sangat berperan dalam pembentukan tanah tersebut. Pada kondisi tergenang senyawa tersebut bersifat stabil, namun bila telah teroksidasi maka akan memunculkan problem, bagi tanah, kualitas kimia perairan dan biota-biota yang berada baik di dalam tanah itu sendiri maupun yang berada di badan-badan air, dimana hasil oksidasi tersebut tercuci ke perairan tersebut. Mensvoort dan Dent (1998) menyebutkan bahwa senyawa pirit tersebut merupakan sumber masalah pada tanah tersebut.
Dilihat luasan, topografi dan ketersediaan air, lahan tersebut sebenarnya mempunyai potensi untuk pengembangan perikanan. Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 6,7 ha lahan berpirit tersebut, yang tersebar di pulau Kalimantan, Sumatera, dan Irian (Nugroho et al., 1992). Biasanya jenis sedimen tersebut di temui dalam kondisi aerob, dan berada di bawah lapisan tanah muda sebagai hasil dari endapan banjir dan pasang surut.
Begitu pula dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dimana sebagian besar daerahnya merupakan daerah pesisir yang memiliki lahan budidaya perikanan yang cukup besar. Daerah tersebut termasuk daerah potensi tanah sulfat masam yang apabila dimanfaatkan tidak dikelola dengan baik tidak dapat di kembangkan. Tragedi tsunami yang melanda Aceh semakin meningkatkan kondisi lahan menjadi sangat potensial sebagai tanah sulfat masam.


1.2. Tujuan
Tujuan untuk melakukan pemetaan tentang potensi tanah sulfat masam yang ada di daerah Provinsi Nangroe Aceh Darasussalam (NAD).


1.3. Sasaran
Memberikan informasi tentang pengelolaan lahan tanah sulfat masam dan komoditas yang cocok untuk budidaya ke petani, dinas perikanan, maupun NGO-NGO yang terkait di bidang perikanan.

II. BAHAN DAN METEDOLOGI



2.1. Waktu dan tempat
Kegiatan survei tanah sulfat masam ini dilakukan pada bulan juli tanggal 5 – 10 Juli 2008 bertempat di desa Meulik Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
2.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam menunjang kegiatan survei tanah sulfat masam antara lain : hidrogen perioksida, pH buffer 4 dan suhu, aquades, plastik klip, karet, batu es. Sedangkan alat yang digunakan antara lain bor aeger, soil pH test, pipet tetes, gelas plastik, buka massel tanah, bagan testur tanah dan kamera, serta GPS.
2.3. Metodelogi pengambilan sampel
2.3.1. Pengambilan sampel
Sampel tanah diambil dengan menggunakan metode transek dengan karapatan per stasiun adalah 50 meter. Untuk menentukan titik per statiun setiap daerah yang mendekati dengan bibir pantai di tarik arah sejauh 50 m, dan untuk lebih jauh dari arah pantai di tarik garis sejauh 100 m. Setiap stasiun sampel dan titik stasiun di tandai dengan GPS untuk menentukan koordinat GPS.
Pengambilan sampel menggunakan alat bor biuret agiaer yang berbentuk tiang yang memiliki tanda skala pengukuran kedalam tiap skala memakili 20 cm. Skala tersebut untuk memudahkan kedalam sampel tanah yang akan di uji.
2.3.2. Analisa data
Sampel yang diambil dari masing stasiun di analisa sesuai uji kimia maupun fisik tanah. Uji kimia berupa pengecekan pH fresh, pH Fox dan redoks potensial, sedangkan secara fisik pengamtan tekstur tanah dan warna tanah. Data yang didapat dari pengambilan sampel terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer berupa dari pengambilan stasiun sampel dan titik sampel yang dicacat berupa penentuan titik koordinat sampel, sifaf kimia dan fisik tanah. Sedangkan data sekunder berupa pencatatan dari hasil pengamatan disekitar area tambak yang disurvei meliputi keberadaan indikator tanah sulfat masam.
Data yang didapat dibahas secara deskripsi dengan menggunakan studi literatur dimana data primer dan sekunder yang telah didapat di bahas sesuai dengan liliteratur yang ada tentang tanah sulfat masam.

III. Hasil dan Pembahasan
3.1. Hasil
peta meulik














































































































Hasil Pengamatan
StasiunpH FreshRedoxpH Fox
16.5-702.29
27.1-602.3
37.33-1733.06
47.44-2222
57.24-1102.25
67.22-982.45
77.23-962.39
86.98-332.68
96.79-1272.4
106.9-1353.1
116.67-1432.18
127.17-762.55
137.05-552.45
146.95-1482.19
157.19-1324.84
167.26-1822.84
176.8-1432.19
18
7.05-1332.79
196.43-1212.43
206.44-1392.36
217.1-2113.98


3.2. Pembahasan
3.2.1. Desa Meulik
Pemilihan pengambilan lokasi sampel tanah sulfam masam di desa meulik di latar belakang dari. Potensi perikanan yang ada di desa tersebut. Desa meulik berada di dalam Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireun Provinsi Nangore Aceh Darussalam. Sebelum tragedi tsunami yang melanda aceh sektor perikanan di desa tersebut sangat maju dimana sebagian besar dari penduduknya mengadalkan perikanan khusus perikanan darat sebagai mata pencaharian. Akan tetapi setelah tsunami desa meulik mengalami penurunan di sektor perikanan darat. Di indikasikan menurunnya usaha membuka tambak di desa meulik disebabkan oleh kondisi lingkungan khususnya tanah yang berubah akibat tragedi tsunami, sehingga tidak cocok lagi dijadikan lahan pertambakan.
3.2.2. Tanah Sulfat Masam
Tanah sulfat masam adalah tanah mengadung pirit yang apabila teroksidasi dapat menurunkan pH dan meningkatkan potensi kelarutan toksik-toksik. Sifat tanah sulfat masam dapat di bagi menjadi dua yaitu : tanah sulfat masam potensial (PPAS) dan tanah sulfat masam aktual (AASS).
Tanah sulfat masam potensial mempunyai sifat sebagai berikut : okisdasi pirit tidak terlalu banyak terjadi, memiliki nilai pH 7-8, dan logam-logam yang terikat pada mineral, tanah-tanah dalam kondisi tereduksi kuat dan kondisi jenih. Sedangkan tanah sulfat masam aktual mempunyai sifat sebagi berikut : nilai pH <>

IV. KESIMPULAN DAN SARAN



Dalam pengambilan sampel tanah sulfat masam yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa Desa Meulik merupakan daerah kawasan potensial tanah sulfat masam, sehingga diperlukan penangananan khusus guna mendukung budidaya perikanan. Disarankan perlu adany diskusi dengan Pemda setempat untuk diadakannya workshop tentang tanah sulfat masam serta rekomendasi komoditas yang layak untuk budidaya di tanah sulfat masam.
DAFTAR PUSTAKA




Breemen N van. 1993. Environmmental aspects of acid sulphate soils. In: Dent DK andvan Mensvoort MEF. (ed). Selected Paper of the Ho Chi Minh City Symposium on Acid Sulphate Soils; Vietnam, March 1992. hlm.391-402

Dent D. 1986. Acid Sulphate Soils: A baseline for research and development. Wageningen: ILRI Publ. 39.

Mensvoort MEF van and Dent DL. 1998. Acid sulphate soils. In. Lal R, Blum WH,Valintine C, and Stewart BA.(ed). Method for Assesessment of Soil Degradation. Florida: CRC Press LLC. hlm. 301-330
Nugroho K, Alkasuma, Paidi, Wahdini W, Abdurachman, Suhardjo H, dan Widjaja-Adhi IPG. 1992. Peta areal potensial untuk pengembangan pertanian lahan pasang surut rawa dan pantai. Proyek Penelitian Sumber Daya Lahan. Bogor: Pusat Penelitian Tanah danAgroklimat.



Widjaya A., Sri R., I Wayan S., 1997, Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

0 komentar:

Poskan Komentar